Bankir Mulai Teriak Likuiditas Ketat!

Bankir Mulai Teriak Likuiditas Ketat!

Coin stacks on a white background

Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Indonesia kembali melambat per November 2023. Tercatat, pada bulan ke-11 tahun ini DPK hanya tumbuh 3,04% secara tahunan (yoy), lebih rendah dari sebulan sebelumnya sebesar 3,9% yoy.

Meskipun begitu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa likuiditas di perbankan memadai sehingga masih mampu menopang penyaluran kredit.

Bank pelat merah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengatakan likuiditasnya masih cukup untuk membiayai ekspansi kredit hingga akhir tahun ini. Direktur Distribution & Funding BTN https://hellokas.site/ Jasmin mengatakan pihaknya memperkirakan kredit dapat tumbuh sekitar 10% pada akhir tahun 2023.

Namun, ia mengakui pertumbuhan DPK di BTN sama dengan industri. Hal ini dipicu oleh era suku bunga acuan yang tinggi.

“Kondisi BTN sama dengan industri. DPK sangat ketat saat ini, semua bank mulai menaikkan rate, dipicu suku bunga acuan yang naik menjadi 6%, penerbitan instrumen surat berharga Baik BI (SRBI, SVBI) maupun pemerintah (SBN), yang membuat likuiditas ketat,” kata Jasmin saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (21/12/2023).

Menurutnya, kondisi likuiditas pada kuartal I-2024 akan tetap ketat, dan dia berharap suku bunga The Fed dapat turun pada kuartal II-2023. BTN pun menyiapkan strategi untuk menggenjot DPK di masa likuiditas ketat ini.

“Lebih ke peningkatan transaksi baik retail maupun wholesale untuk nasabah BTN baik funding maupun lending sehingga cash flownya (dananya) stay di BTN. Follow up bisnis ekosistem yang terkait dengan property related,” jelas Jasmin.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mengaku bahwa saat ini industri dibayangi likuiditas ketat. Presiden Direktur BNGA Lani Darmawan menyampaikan DPK di bank swasta yang ia pimpin tumbuh sekitar 6%.

Untuk menghadapi pengetatan likuditas, ia mengatakan Bank CIMB Niaga menjaga rasio pinjaman terhadap simpanan.

“Market memang terlihat ketat di likuiditas karena DPK yang tetap tumbuh tapi relatif kecil. DPK kami tumbuh sekitar 6%. Kami jaga likuiditas di LDR yg sehat sekitar 85%an,” ujar Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (21/12/2023).

Terpisah, bank pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melaporkan DPK secara bank only tumbuh 6% yoy per November 2023. Direktur Keuangan & Strategi BMRI Sigit Prastowo mengatakan pertumbuhan tersebut juga mendorong LDR relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 87%.

Dia mengatakan Bank Mandiri melihat tren perlambatan pertumbuhan DPK industri dipengaruhi beberapa faktor seperti aktivitas konsumsi dan investasi yang kembali normal setelah periode pandemi, menurunnya surplus perdagangan, serta meningkatnya volatilitas yang sempat menyebabkan terjadinya capital outflow.

“Ke depan, kondisi likuiditas memang masih relatif uncertain, namun kami berharap beberapa kebijakan pemerintah seperti akselerasi belanja pemerintah menjelang Pemilu, serta belanja infrastruktur untuk penyelesaian proyek strategis pemerintah seperti PSN dan IKN dapat berpotensi menopang kondisi likuiditas perbankan,” ujar Sigit saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (21/12/2023).

Selain itu, kata dia, BI juga mengeluarkan beberapa kebijakan dan instrument pasar keuangan baru seperti SRBI, SVBI, dan TD DHE Valas, yang ditujukan sebagai upaya pendalaman pasar keuangan dan upaya menarik aliran modal asing, sehingga dapat mendukung kondisi likuiditas domestik.

“Ke depan, Bank Mandiri terus mendorong pertumbuhan DPK, khususnya dana murah, dalam memperkuat likuiditas secara berkelanjutan, melalui optimalisasi layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional melalui Livin dan Kopra,” katanya.

Kemudian, PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau PaninBank mengaku pertumbuhan DPK pada bulan November ini tidak jauh berbeda dengan periode yang sama setahun lalu. Presiden Direktur PNBN Herwidayatmo mengatakan pertumbuhan DPK disesuaikan dengan kebutuhan penyaluran kredit yang juga lesu.

“Pertumbuhan DPK PaninBank senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan untuk penyaluran kredit. Sampai dengan November 2023 DPK tidak banyak berubah dari posisi akhir tahun 2022, karena pertumbuhan kredit yang juga terbatas,” ujar Herwidayatmo saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (21/12/2023).

Tahun depan, PaninBank membidik penyaluran kredit akan meningkat, sehingga DPK juga diperkirakan meningkat.

“Untuk tahun 2024 kami proyeksikan kredit akan meningkat, sehingga DPK juga akan ditingkatkan pada kisaran 8%-10%,” kata Herwidayatmo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*