Bursa Asia Berakhir Cerah, Cuma IHSG yang Loyo Sendiri

Bursa Asia

Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup menguat pada perdagangan Senin (17/4/2023), di mana investor bersiap untuk memantau rilis kinerja keuangan perusahaan di global pada kuartal pertama 2023.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup naik 0,15% ke posisi 28.535,3, Hang Seng Hong Kong melonjak 1,63% ke 20.771,74, Shanghai Composite China melesat 1,29% ke 3.381,18, Straits Times Singapura menguat 0,3% ke 3.312,6, ASX 200 Australia bertambah 0,27% ke 7.381,5, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,17% menjadi 2.575,91.

Sementara untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,45% menjadi 6.787,58.

Investor di global bersiap untuk memantau perilisan kinerja keuangan perusahaan di global pada kuartal I-2023, terutama di Amerika Serikat (AS), karena hal ini dapat mempengaruhi pergerakan bursa saham AS, Wall Street dan tentunya akan berimbas ke bursa Asia-Pasifik.

Saat ini, para investor akan menunggu efek kick off musim laporan laba (earnings season) perusahaan AS terhadap Wall Street dan bursa global.

Sebagian investor percaya musim laporan keuangan perusahaan AS, terutama perbankan kakap, yang solid bisa menjadi pendongkrak saham.

Wajar saja, sektor perbankan menjadi sorotan usai kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) cs dan kasus merger raksasa bank Swiss Credit Suisse ke UBS pada Maret lalu.

Meski begitu, Investor masih cenderung khawatir bahwa data ekonomi dan tenaga kerja yang telah dirilis pekan lalu masih menunjukkan beragam.

Sejumlah data ekonomi AS seperti penjualan ritel, produksi industri dan sentimen konsumen pun masih bervariasi dan memperkuat harapan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bp) lagi pada pertemuan kebijakan bulan depan.

Survei dari CME FedWatch menunjukkan jika 80,2% kini bertaruh mengenai kenaikan suku bunga 25 bps. Angkanya naik 70% pada awal pekan lalu.

Ekspektasi tersebut digarisbawahi oleh Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic, yang mengatakan kenaikan bunga 25 bp dapat memungkinkan The Fed untuk mengakhiri siklus pengetatannya.

Namun, para investor saat ini tetap bertaruh bahwa The Fed bakal mengambil jalur dovish, dengan pemangkasan suku bunga diproyeksikan dimulai musim panas nanti.

The Fed akan menggelar rapat pada awal Mei mendatang sehingga pekan depan sudah masuk “blackout periode’ di mana pasar tidak bisa mendapatkan sinyal kebijakan The Fed dari para pejabat mereka.

Sebelum memasuki “blackout period”, beberapa pejabat The Fed akan menyampaikan pidato di sejumlah acara dan hal ini akan dipantau oleh pelaku pasar global, karena pada pertemuan sebelumnya hingga kini, pejabat The Fed seakan masih memiliki pandangan yang beragam terhadap kebijakan suku bunga acuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*