Dedolalirisasi Menggila, Amerika Jadi “Musuh Bersama”?

U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Perang Rusia – Ukraina memberikan dampak yang besar ke dolar Amerika Serikat (AS). Dedolarisasi atau pengurangan penggunaan dolar AS di pasar semakin marak terjadi.

Dedolarisasi sudah dimulai sejak awal 2000an oleh tetangga terdekat AS mulai dari Peru, Bolivia, Paraguay, hingga Argentina.

Brasil menjadi negara di Amerika Latin yang paling getol mengurangi dolar AS. Bersama BRIC (Brasil, India, Rusia, China, dan Afrika Selatan), Brasil mulai mengindikasikan pembentukan mata uang baru. Uang ini akan diamankan dengan emas dan komoditas lain, termasuk elemen tanah jarang.

Brasil dan China pada akhir Maret 2023 juga membuat kesepakatan untuk ‘membuang’ dolar dalam transaksi perdagangan mereka.

Dari banyak negara tersebut, China tentu yang menjadi sorotan utama. Maklum saja, Sebagai negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, China memliki pengaruh besar di sektor perdagangan.

China merupakan eksportir terbesar kedua di dunia, berdasarkan data dari International Trade Center pada 2022 nilainya mencapai US$ 3,6 triliun. Nilai tersebut jauh di atas Amerika Serikat sebesar US$ 2,1 triliun.

Maka tidak salah jika China terus berusaha mendorong yuan menjadi mata uang internasional.

Presiden Xi saat berkunjung ke Riyadh Desember lalu mengatakan China dan negara-negara Teluk Arab seharusnya menggunakan Shanghai Petroleum and Natural Gas Exchange sebagai platform menyelesaikan transaksi minyak dan gas.

“China akan terus mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar dari negara-negara Arab, memperbanyak impor LNG, memperkuat kerjasama pengembangan hulu minyak dan gas, layanan teknik, penyimpanan, transportasi, dan penyulingan serta memanfaatkan sepenuhnya Shanghai Petroleum and National Gas Exchange sebagai platform settlement perdagangan minyak dan gas dengan menggunakan yuan,” kata XI pada Desember 2022 lalu, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Upaya tersebut pun mulai menunjukkan hasil. China kini juga bertransaksi dengan menggunakan yuan dalam perdagangan liquefied natural gas (LNG) dengan Uni Emirat Arab.

Shanghai Petroleum and Natural Gas Exchange sebagaimana dilansir Reuters mengatakan China untuk pertama kalinya menyelesaikan transaksi pembelian LNG dengan menggunakan mata uang yuan.

Reuters melaporkan perusahaan raksasa migas China, CNOOC dan TotalEnergies menyelesaikan transaksi perdagangan LNG dengan mata uang yuan. China dilaporkan mengimpor sekitar 65.000 ton LNG dari Uni Emirat Arab (UEA).

Sebelum bertransaksi dengan yuan, langkah dedolarisasi China dilakukan dengan mengurangi kepemilikan obligasi (Treasury AS).

Data Treasury International Capital (TIC) yang dirilis Departemen Keuangan AS menunjukkan hingga Januari 2023 China memiliki US$ 859,4 miliar Treasury, nilai tersebut merosot US$ 174,4 miliar dari satu tahun sebelumnya.

Nilai kepemilikan tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2009.

Data dari TIC sebelumnya menunjukkan bank sentral di berbagai negara menjual Treasury sejak Oktober 2017.

Saat itu Amerika Serikat baru mengobarkan perang dagang dengan China.

Analis dari China Internasional Capital Corp (CICC) melihat aksi jual tersebut sebagai tren dedolarisasi.

“Dolar AS merupakan aset safe haven global, tetapi dalam beberapa tahun terakhir banyak negara mengurangi kepemilikan Treasury dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.”

“Risiko ketergantungan dengan dolar AS terlihat jelas pada tahun lalu selama ketegangan geopolitik di Eropa yang diikuti sanksi negara Barat ke Rusia. Diversifikasi cadangan devisa kini semakin banyak diadopsi bank sentral di dunia,” kata analis CICC sebagaimana dilansir China Daily, Jumat (20/1/2023).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*