IHSG Lesu Jelang Lebaran, Ternyata Ini Penyebabnya

pembukaan bursa saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi II perdagangan Senin (17/4/23) berakhir turun 0,45% menjadi 6.787,58 secara harian.

Sebanyak 282 saham melemah, 227 saham menguat, sementara 214 lainnya mendatar. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 9 triliun dengan melibatkan 14 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali.

Hari ini IHSG sempat dibuka menguat namun dalam beberapa menit langsung melemah hingga ditutup koreksi. Dalam lima hari perdagangan IHSG terapresiasi 0,24%. Sementara itu, secara year to date (ytd) indeks masih membukukan pelemahan sebesar 0,92%.

Meski melemah, berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via Refinitiv mayoritas sektor menguat, hanya empat sektor yang turun dengan sektor Finansial memimpin penurunan sebesar 0,76%.

Adapun lima bottom movers IHSG berdasarkan bobot indeks poinnya pada penutupan sesi II hari ini adalah sebagai berikut:

1. PT Bank Rakyat Indonesia (-11)

2. PT Telkom Indonesia (-9)

3. PT Bank Mandiri (-5)

4. PT Merdeka Copper Gold (-4,5)

5. PT Adaro Energy Indonesia (-2,1)

Perdagangan pasar saham di Indonesia yang hanya berlangsung selama dua hari pada pekan ini menjelang lebaran membuat suasananya cenderung sepi, sehingga pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih cenderung sideways, meski terlihat terkoreksi.

Selain itu, koreksi IHSG juga mengikuti pergerakan bursa global seperti Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu dan bursa Asia-Pasifik pada hari ini.

Tiga indeks utama Wall Street kompak berakhir di zona merah pada perdagangan akhir pekan lalu Jumat (14/3/2023). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 143,22 poin atau 0,42% menjadi 33.886,47. indeks S&P 500 turun 8,58 poin atau 0,21% ke level 4.137,64. Dan indeks Nasdaq Composite melorot 42,81 poin atau 0,35%, menjadi 12.123,47.

Investor masih cenderung khawatir bahwa data ekonomi dan tenaga kerja yang telah dirilis pekan lalu masih menunjukkan beragam.

Sejumlah data ekonomi AS seperti penjualan ritel, produksi industri dan sentimen konsumen pun masih bervariasi dan memperkuat harapan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bp) lagi pada pertemuan kebijakan bulan depan.

Ekspektasi tersebut digarisbawahi oleh Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic, yang mengatakan kenaikan bunga 25 bp dapat memungkinkan The Fed untuk mengakhiri siklus pengetatannya.

Namun, para investor saat ini tetap bertaruh bahwa The Fed bakal mengambil jalur dovish, dengan pemangkasan suku bunga diproyeksikan dimulai musim panas nanti.

Di lain sisi, para investor akan menunggu efek kick off musim laporan laba (earnings season) perusahaan AS terhadap Wall Street dan bursa global.

Sebagian investor percaya musim laporan keuangan perusahaan AS, terutama perbankan kakap, yang solid bisa menjadi pendongkrak saham.

Wajar saja, sektor perbankan menjadi sorotan usai kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) cs dan kasus merger raksasa bank Swiss Credit Suisse ke UBS pada Maret lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*