Kapan Momen Tepat Dedolarisasi RI? Ini Kata Eks-Menkeu RI

Dunia Menuju Dedolarisasi, Ini 5 Calon Mata Uang Penggantinya

Di tengah situasi perekonomian dunia yang pelik, ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diharapkan terus menurun, sehingga stabilitas nilai tukar rupiah bisa terus terjaga.

Menteri Keuangan (periode 2014-2016) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, saat ini sebenarnya waktu yang tepat bagi suatu negara untuk mengurangi ketergantungan dolar atau kerap disebut dedolarisasi, karena saat ini nilai kurs dolar sedang tinggi alias mahal.

Bambang menjelaskan, nilai kurs dolar sedang mahal, disebabkan tingkat bunga Bank Sentral AS atau Fed Fund Rate yang relatif tinggi, yang diperkirakan akan bertahan pada level 5% dalam jangka waktu yang lama, karena harus meredam inflasi.

Alhasil, banyak negara yang kemungkinan khawatir kalau ketergantungan terhadap dolar AS tidak dikurangi, bukan hanya akan menghambat perdagangan, tapi juga bisa menciptakan ekonomi biaya tinggi.

“Dengan mahalnya dolar, dolar jadi lebih langka dan harga yang relatif tinggi,” ujar Bambang kepada CNBC Indonesia dikutip Selasa (18/4/2023).

Oleh karena itu, menurut Bambang saat ini sebenarnya waktu yang tepat untuk suatu negara bisa mengurangi ketergantungan dolar, bisa melalui sistem kerjasama, atau lewat penyatuan mata uang bersama.

Maka tak heran jika negara aliansi BRICS yakni Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan untuk berencana membentuk sistem pembayaran baru, alias tidak lagi menggunakan dolar AS sebagai mata uang mereka untuk melakukan transaksi.

“Yang disampaikan atau ide dari BRICS bukan ide baru, karena euro muncul dari kesepakatan negara-negara anggota uni eropa untuk bisa mempunyai satu mata uang yang diharapkan bisa jadi pesaing dolar AS,” jelas Bambang.

Pun, ide BRICS untuk meninggalkan dolar AS, menurut Bambang adalah langkah yang tepat karena saat ini nilai kurs dolar AS sedang mahal.

“Ini bukan ide baru atau aneh, tapi ide yang perlu dicermati karena kondisinya saat dolar AS sedang mahal,” ujarnya lagi.

Seperti diketahui, BRICS tengah berencana menciptakan alat pembayaran baru. Hal tersebut dilakukan sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar dan euro.

Melansir India Times, anggota parlemen Rusia Babakov menjelaskan, BRICS akan menggunakan mata uang baru dengan komoditas lain, seperti emas dan logam tanah jarang (LTJ).

Perkembangan upaya menciptakan mata uang baru tersebut, rencananya akan dipresentasikan pada KTT BRICS di Afrika Selatan pada Agustus 2023.

Saat ini bukan hanya BRICS yang tengah berencana untuk melakukan aksi buang dolar. Ada 10 negara yang bergabung dalam ASEAN yang juga berencana untuk kompak meninggalkan dolar dalam bertransaksi.

Ke-10 negara tersebut yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja, yang sepakat untuk menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi pembayaran lintas negara.

Dalam aspek ini pertemuan bank sentral ASEAN, sepakat akan dibahas di dalam working committee atau tim gugus tugas, untuk bisa menyelesaikan kerja sama, dan untuk bisa melihat panduan yang yang dikembangkan dari capital account liberalization.

Gugus tugas LCT se-ASEAN itu dibentuk untuk bisa mendiskusikan kerjasama transaksi yang sama untuk ASEAN, menciptakan guideline atau kerangka kerja mata uang sebagai upaya sebuah settlement.

Kesepakatan penggunaan LCT di ASEAN tersebut terjalin di dalam pertemuan pertama tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau the 1st ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (AFMGM), di Bali pada 28-31 Maret 2023.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*