Proyek Mangkrak Jadi Kota ‘Hantu’ China di Negara Tetangga RI

Proyek Mangkrak Jadi Kota ‘Hantu’ China di Negara Tetangga RI

Pemandangan umum kondominium di Forest City, proyek pembangunan yang diluncurkan di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan China, terlihat di Gelang Patah di negara bagian Johor Malaysia pada 14 Juni 2022. (MOHD RASFAN/AFP via Getty Images)

Krisis properti China yang kian parah memberikan dampak ke banyak pihak. Salah satunya adalah mega proyek Forest City di Malaysia yang dikembangkan raksasa real estat China, Country Garden, sejak 2006.

Penghuni kondominium https://totojpslot.online/ Johor Country Garden kini prihatin atas proyek yang belum selesai di tengah krisis utang pengembang China tersebut. Pasalnya Country Garden mengalami gagal bayar.

Chee Pei Lin asal Singapura sudah empat tahun setelah pindah ke apartemen dua kamar tidurnya di Forest City. Ia awalnya terpikat oleh harga properti yang lebih rendah dibandingkan dengan Singapura dan prospek menggunakan apartemen seluas 635 kaki persegi sebagai rumah jompo.

Tahun 2019, ia membayar 700.000 ringgit untuk apartemennya. Sayangnya ia kini merasa kewalahan dan kecewa dengan lambatnya pembangunan di sekitar blok apartemennya di Taman Ataraxia dan sekitar pusat kota.

“Di sekitar kota, ada kantong-kantong ruang yang tandus dan kurang dimanfaatkan. Tetapi jika Anda melihat model 3D yang dipamerkan di galeri penjualan, seharusnya ada lebih banyak menara tempat tinggal dan fasilitas lainnya seperti yacht dan kompleks perbelanjaan,” kata pria berusia 48 tahun itu, seperti dilaporkan¬†Channel News Asia.

Chee, yang bekerja di bidang keuangan, menambahkan bahwa berita tentang perusahaan induk pengembang proyek Country Garden di China yang merayap menuju default keuangan juga memperburuk kekhawatirannya.

Secara khusus, dia khawatir konstruksi untuk sisa pengembangan Forest City mungkin tidak selesai dan daerah tempat tinggalnya akan terus menjadi kota hantu yang sepi.

“Laporan tersebut sangat mengkhawatirkan. Saya pikir itu menimbulkan banyak pertanyaan (tentang) apakah pengembang di Malaysia juga memiliki masalah arus kas, dan apakah mereka dapat menyelesaikan apa yang mereka rencanakan?” katanya.

Krisis Utang dan 3 Mega Proyek yang Mangkrak

Krisis utang di Country Garden di China telah menjadi berita utama global karena perusahaan tersebut telah menjadi pengembang terbesar di negara itu berdasarkan nilai penjualan sebelum tahun 2023.

Pekan lalu, perusahaan tersebut menangguhkan perdagangan hampir selusin obligasi dalam negeri, membuka jalan bagi negosiasi utang dan kemungkinan restrukturisasi, karena harga sahamnya anjlok.

Perusahaan sekarang memiliki masa tenggang 30 hari yang dilaporkan hingga awal September untuk membayar utangnya sebelum dianggap gagal bayar.

Proyek bisnis dan konstruksi Country Garden tak hanya terkonsentrasi di kota-kota di seluruh China daratan, tetapi memiliki anak perusahaan di Malaysia yang juga mengawasi tiga pengembangan di negara bagian selatan Johor.

Ini termasuk mega proyek andalan perusahaan senilai US$100 miliar Forest City di Gelang Patah dan pengembangan pesisir lainnya, Danga Bay, dekat Johor Bahru yang memiliki nilai pengembangan bruto sebesar US$18 miliar.

Proyek ketiga, yang bernama Central Park, masih dalam pembangunan dan seluruh rencana induk proyek akan selesai pada tahun 2024. Proyek ini akan bernilai US$990 juta.

Sebuah pengembangan terencana di empat bidang tanah reklamasi yang terpisah di dekat jembatan Tuas Second Link, Forest City mencakup kompleks kondominium, vila, hotel, lapangan golf, serta berbagai fasilitas lainnya seperti mal dan sekolah.

Menurut pengecekan di situs properti online, harga rumah di Forest City berkisar antara 400 ribu ringgit hingga 4,8 juta ringgit.

Sementara itu, Danga Bay memiliki enam kompleks kondominium berbeda dalam lahan reklamasi pesisir seluas 0,23 kilometer persegi. Proyek ini menawarkan unit kondominium satu hingga empat kamar tidur, dengan harga saat ini bernilai antara 300 ribu ringgit dan 1,3 juta ringgit.

Proyek Central Park juga menawarkan unit apartemen antara satu hingga empat kamar. Selain itu, juga memiliki unit teras dua lantai yang bernilai antara 280 ribu ringgit hingga 1,1 juta ringgit.

Sementara itu, menurut laporan berita di Australia, perusahaan asal China ini juga ketahuan terkepung menjual lahan seluas 150 hektar yang belum dikembangkan di kawasan Windermere miliknya dengan harga yang diminta sebesar 250 juta dollar Australia.

Sebuah laporan dari Financial Review juga mengutip pengembang yang mengatakan bahwa mereka berencana untuk mendivestasikan sisa proyek terakhirnya di Australia, yakni Wilton Greens Estate senilai 2 miliar dolar Australia di Sydney.

Samuel Tan, direktur eksekutif KGV International Property Consultants di Johor, mengatakan tidak dapat dihindari bahwa penerbitan utang oleh Country Garden China juga akan memicu sentimen negatif di antara penduduk saat ini dan calon pembeli di Malaysia.

Samuel Tan, direktur eksekutif KGV International Property Consultants di Johor, mengatakan kepada CNA bahwa “tidak dapat dihindari” bahwa penerbitan utang oleh Country Garden China juga akan memicu sentimen negatif di antara penduduk saat ini dan calon pembeli di Malaysia.

“Adalah kekhawatiran yang wajar dari beberapa penduduk ini bahwa Country Garden di Malaysia mungkin juga gagal bayar dan ini akan memicu masalah arus kas yang akan berdampak pada penyelesaian proyek,” kata Tan.

“Jika permintaan lambat, mereka akan berhenti meluncurkan produk baru. Ini adalah sikap praktis dan pragmatis yang dilakukan pengembang manapun,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*