RI Mau Jadi Pemain Utama Pupuk Global, Ini Strategi BUMN

Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury juga memastikan komitmen BUMN mendorong peran Pupuk Indonesia mendukung ketahanan pangan nasional diantaranya melalui peningkatan produksi hingga distribusi pupuk bersubsidi dan perluasan sumber bahan baku pupuk. (Tangkapan Layar CNBC Indonesia TV)

Indonesia bercita-cita menjadi pemain utama pupuk dunia/global. Hal itu bisa dilakukan dengan syarat harus ada pembenahan di industri pupuk Indonesia.

Pernyataan ini diungkapkan Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury. Dia bilang Indonesia sudah memiliki perusahaan pupuk terbesar yaitu PT Pupuk Indonesia (Persero). Menurut Pahala, Pupuk Indonesia merupakan perusahaan pupuk terbesar ke 8 di dunia dan bahkan terbesar di Asia.

“Kalau dari pandangan kita Pupuk Indonesia sudah menjadi perusahaan pupuk nomor 8 yang terbesar di dunia dan bahkan di Asia terbesar saat ini sebagai one single company,” ungkap Pahala dalam Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (17/4/2023).

Namun capaian itu belum cukup, Pahala menginginkan Pupuk Indonesia bisa lebih dari itu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kinerja Pupuk Indonesia agar bisa menjadi pemain utama pupuk global.

Pertama adalah tambahan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi terpasang. Pahala menyatakan sampai saat ini ketersediaan pupuk urea cukup baik di Indonesia. Namun tantangannya sekarang adalah pupuk NPK.

Penyebabnya adalah bahan baku pembuatan pupuk NPK seperti potas dan fosfat sangat minim di Indonesia. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan harus mengimpor hingga 6,3 juta ton atau 74% kebutuhan pupuk NPK.

“Memang salah satu yang menjadi tantangan adalah bagaimana ketersediaan bahan baku utama yaitu gas, potas dan fosfat,” sebut Pahala.

Pahala punya strateginya untuk menyelesaikan masalah ini. Kementerian BUMN dan Pupuk Indonesia akan terus meningkatkan hubungan baik Business to Business (B2B) maupun Government to Government (G2G) agar tercukupi kebutuhan bahan baku dan pupuk NPK.

“Kita mendorong kerja sama – kerja sama baik itu B2B maupun juga secara G2G dengan beberapa negara lain misalnya dengan Kanada kita mengeksplorasi. Kita memiliki kerja sama dengan CCC untuk pengembangan suplai potas ke Indonesia dan pengembangan ke negara lain,” ujar Pahala.

Pahala menambahkan peningkatan hubungan baik B2B maupun G2G bisa diperluas misalnya dengan mengakuisisi perusahaan di luar Indonesia. Dengan begitu akses Indonesia mendapatkan bahan baku pupuk jauh lebih mudah.

“Jadi dari sisi kita di BUMN mendorong untuk melakukan investasi untuk dapat mengembangkan kapasitas apakah itu di NPK dan go global bekerja sama atau yang bisa kita lakukan adalah melakukan akuisisi di luar Indonesia sehingga kita langsung mendapatkan akses bahan baku yang sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Setelah itu dilakukan, langkah selanjutnya adalah meningkatkan jumlah produksi pupuk. Dengan akses bahan baku yang mudah, peningkatan produksi pupuk bukan hal yang sulit dilakukan.

Apabila ini sudah dilakukan maka tingkat kompetitif Indonesia akan meningkat. Dengan begitu ujungnya adalah Indonesia mampu menguasai market pupuk global.

“Ini betul-betul kesempatan kita untuk menjadi pemenang dan memiliki competitiveness yang tinggi untuk penguasaan pasar dan penguasaan resources yang tadi yaitu bahan baku dari gas, potas, dan fosfat tadi bekerja sama juga dengan negara-negara lainnya,” jelas Pahala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*