Sekutu Putin Ngamuk, Ingin ‘Cerai’ dengan Aliansi Rusia

Protesters gather near the parliamentary building during a protest against an agreement to halt fighting over the Nagorno-Karabakh region, in Yerevan, Armenia, Wednesday, Nov. 11, 2020. Thousands of people flooded the streets of Yerevan once again on Wednesday, protesting an agreement between Armenia and Azerbaijan to halt the fighting over Nagorno-Karabakh, which calls for deployment of nearly 2,000 Russian peacekeepers and territorial concessions. Protesters clashed with police, and scores have been detained. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)

Kemarahan masyarakat Armenia terhadap Rusia meningkat. Tidak sedikit warga negara sekutu Presiden Vladimir Putin itu yang menyebut Moskow bukan lagi teman mereka.

Fenomena ini dipicu invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 lalu. Serangan Putin itu mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh negara bekas Soviet dan mendorong mitra Moskow untuk mencari sekutu di tempat lain.

Artur Sargsyan, seorang filolog berusia 26 tahun, mengatakan Rusia adalah mitra yang tidak dapat diandalkan dan Armenia harus mencari sekutu di tempat lain.

“Saya memimpikan suatu hari ketika Armenia meninggalkan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) dan pengaruh Rusia,” kata Sargsyan, mengacu pada pakta regional yang dipimpin Moskow, mengutip¬†AFP, Senin (17/4/2023).

“Rusia dan CSTO tidak membantu Armenia selama masa yang sangat sulit,” tambahnya, merujuk pada kelambanan blok keamanan dalam menghadapi konflik dengan musuh bebuyutan Azerbaijan.

Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, negara kecil Kaukasus yang berpenduduk sekitar tiga juta orang ini mengandalkan Rusia untuk dukungan militer dan ekonominya. Negara ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Rusia dan banyak orang di negara itu berbicara bahasa Rusia.

Tapi kini banyak orang di Armenia mengatakan tidak bisa memaafkan Moskow yang dianggap melalaikan tanggung jawabnya untuk mempertahankan negara mereka secara militer melawan Azerbaijan yang bersekutu dengan Turki.

Sebagai informasi, Armenia dan Azerbaijan, kedua negara Kaukasus, telah berperang dua kali untuk menguasai daerah kantong Nagorno-Karabakh yang disengketakan. Dalam konflik terbaru pada tahun 2020, Armenia kalah dan kehilangan wilayah yang telah dikuasainya selama bertahun-tahun.

Kekesalan terhadap Moskow, yang terhambat di Ukraina, semakin meningkat setelah Azerbaijan memblokir satu-satunya jalur darat antara Karabakh dan Armenia pada pertengahan Desember.

“Armenia adalah negara kecil dan harus bergabung dengan blok Barat, sebuah aliansi yang akan menerima bantuan nyata,” kata warga Yerevan bernama Arpine Madaryan, guru bahasa Inggris berusia 42 tahun.

“Kita harus keluar dari CSTO. Mereka tidak membantu kita, mereka bukan teman kita,” tambahnya.

Selama enam minggu pertempuran yang merenggut ribuan nyawa pada musim gugur 2020, Turki mendukung Azerbaijan secara diplomatis dan militer, sementara Armenia dibiarkan sendirian menghadapi musuh yang jauh lebih kuat. Kremlin disebut hanya melakukan intervensi secara diplomatis.

Putin menengahi kesepakatan gencatan senjata yang membuat Yerevan menyerahkan wilayah yang telah dikuasainya selama beberapa dekade, dan Rusia mengerahkan penjaga perdamaian untuk mengawasi gencatan senjata yang rapuh. Namun di Armenia, kesepakatan itu dipandang sebagai penghinaan nasional.

Pada Januari, Armenia membatalkan rencana untuk menyelenggarakan latihan CSTO, tetapi sejauh ini menolak untuk keluar dari pakta tersebut sama sekali.

Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan pun pernah menyatakan bahwa pihaknya akan sangat senang menerima bantuan dari musuh Rusia seperti AS dan Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*